23 Januari 2012

19 Januari dan Doa Ryu

Andai aku punya satu kesempatan. 10 detik saja. Pastilah aku akan memanfaatkannya dengan sebenar. Ya Tuhanku, aku minta 10 detik saja dari banyak waktu yang Kau ciptakan di dunia ini. 10 detik yang sangat berarti..
***
Ryu memandangi sebuah kado bersampul garis-garis oranye di tangannya. Sesaat lamanya ia duduk bersila, bersandar pada sisi samping tempat tidurnya. Ia hampir gila memikirkan bagaimana caranya membuat kado tidak seberapa itu bisa sampai di tangan Rendy. Ulang tahun kakak kelasnya itu sudah lewat 3 hari lalu, tapi kado untuknya masih saja diam dan putus asa. Seperti saat ini, saat ia ditimang-timang oleh Ryu yang bimbang. Ia membenarkan posisi duduknya dan menghadapkan wajahnya ke cermin almarinya seolah ada seseorang bernama Rendy di sana.

“kado ini aku beli saat study tour di Jogja. Sebelum study tour pun, aku sudah berniat membelikanmu sesuatu untuk hari lahirmu. Sesampainya di Jogja, aku sebenarnya telah berhasil menahan nafsuku untuk tidak membelikanmu sesuatu. Tapi entah kenapa, mulutku tak henti menawar kado ini pada penjualnya dan tak kuasa kutahan tanganku saat akhirnya ia menarik selembaran uang dari dompetku. Dan, saat membelinya, aku memikirkanmu. Bukan dirimu yang sedang mengenakan kado ini, tapi hanya dirimu yang abstrak. Sekuat apapun aku mencoba mengingat wajahmu, aku tetap alfa. Aku hanya bisa memikirkanmu dengan bayangan yang abstrak.

Dari awal Januari mulai kubungkus kado ini. Tapi entah mengapa aku tidak mood dengan motif sampulnya. Dan aku tahu aku telah membuat kesalahan dengan menyelipkan surat bertulis tanganku sendiri di dalamnya. Bagaimanapun, aku tidak mau ada yang tahu itu tulisan tanganku. Jadi kubongkar lagi kado itu beberapa hari kemudian, bukan hanya mengganti sampul kadonya, tapi juga mengganti suratnya yang aku aku ketik di komputer dan dalam bahasa Inggris. Aku ingat betul ada kata-kata : ‘Well, i know today isn’t your birthday. I just wanna give u something before ur birthday’, karena aku merencanakan kado itu sampai di tanganmu sebelum 19 Januari, hari lahirmu. Namun semakin mendekat hari Januari yang kesembilan belas, tak kunjung kutemukan cara terbaik menyampaikan keinginanku.

-karena Ryu adalah imajiner. Dan seorang imajiner tidak akan keluar dari kekang takdirnya untuk menemui orang lain dan memberitahu siapa ia sebenarnya-

Aku kembali teringat kata-kata yang kubuat sendiri saat kau menanyakan siapa diriku sebenarnya lewat SMS, karena aku yang menghubungimu lebih dulu dengan mengatasnamakan diriku adalah Ryu. Jadi sampai sekarang pun, aku masih Ryu yang imajiner, Rendy. Aku tidak boleh memberitahu kepadamu dan diketahui olehmu. Aku layaknya agen rahasia yang harus menutup diri rapat-rapat darimu.

Sampai tiba tanggal 19 pada Januari tahun ini, kadoku masih diam teronggok di dalam tas kertas di kamarku. Aku belum bisa membuat benda ini sampai di tanganmu. Sebenarnya aku telah berusaha untuk meletakkannya di motormu yang kau parkir saat di sekolah. Tapi kau tahu, sekolah tidak pernah sepi. Dan aku pun tahu, kau populer, tidak sedikti yang mengenalmu. Jadi kuurungkan niatku. Aku pun membedah lagi kado ini untuk mengganti surat di dalamnya. Mengganti kalimat ‘Well, i know today isn’t your birthday. I just wanna give u something before ur birthday’, menjadi ‘I know it has been late to greet your birthday’.

Sungguh, aku hanya ingin memberi ini. Tak ada keinginan lain. Aku tidak pedulikan lagi keinginanku –andai saja kau memperhatikanku-, atau apapun itu. Kado ini, aku membelinya untukmu, jadi biarlah ini tetap sampai padamu meski aku tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Kau tahu, tidak mudah menjadi seorang berlabel ‘anak Rohis –Rohani Islam-‘. Tidak ada alasan bagiku mengelak hukum Allah nanti di pengadilan paling tinggi, saat aku dinyatakan bersalah karena mendekati zina dengan berpacaran padahal aku jelas-jelas tahu apa hukum pacaran dalam agama kita. Maka aku hanya ingin menyampaikan kado ini sebagai tanda sayang kepada kakak kelasku yang memang benar, waktu itu aku menyukainya.

Tapi saat ini, aku tidak menginginkan lagi dirimu sebagai pacarku. Bagaimana mungkin aku meminta pada Allah seorang jodoh yang bersih, tapi aku sendiri mengotori diri dalam sebuah hubungan berlatar hawa nafsu sementara dan tak terjaga. Namaku Izzah, aku ingin menjaga izzah(kemuliaan) ku juga sebagai seorang muslimah. Aku ingin menjadi remaja muslimah, bukan menjadi remaja tipe idamana laki-laki sebagai pacarnya. Jadi jika aku telah berhasil membuat kado ini sampai di tanganmu, aku akan berhenti berharap kau memperhatikanku, atau peduli denganku, atau kau mengenaliku, bahkan sekedar melihatku. Tidak. Aku tidak lagi butuh semua itu. Yang kubutuhkan adalah kesempatan walau hanya 10 detik.

Toh, jika Allah menakdirkan kita berjodoh, kita akan bertemu lagi dalam sebuah ikatan yang diberkahi. Maka aku akan menunggu dirimu, berdoa kau adalah jodohku tanpa terus menerus melihatmu. Karena jodoh tak kemana. Dimanapun nanti kau berada, dan dimanapun nanti aku mengembara, aku tidak takut lagi kesendirian. Karena ada Allah yang menyediakan tempat mengadu. Kalaupun kita tidak berjodoh, kita juga akan tahu dengan sendirinya dan Allah pasti memberi kita lebih dari yang kita mau.
Tuhanku, beri aku kesempatan barang 10 detik..”

Ryu mengakhiri perbincangannya sendiri dengan air mata yang hampir terjatuh. Ia bertanya sendiri mengapa ia bisa meminta pada Tuhannya 10 detik saja. Padahal ia tahu Tuhannya maha pemurah. Ia menggeleng. 10 detik sangat berharga. Jika Allah memberinya 10 detik esok hari sebagai kesempatannya, oh, begitu berharganya detik-detik itu. Ia terus berdoa dalam diam.  

“Tuhanku, beri aku walau 10 detik..”

2 komentar:

>>Tinggalkan jejak.. :)