8 Januari 2012

Surat untuk Ibu

SURAT UNTUK IBU
Ibu, aku sekarang seperti yang ibu lihat, sudah besar. Walau sudah besar, dan katamu aku sudah menjadi seorang gadis, tapi toh aku masih belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Aku layaknya bayi tua yang terus menerus ibu bopong dan timang-timang nyaris tanpa lelah. Setiap saat minta ini, minta itu, disiapin ini, disiapin itu. Tapi setiap saat pula ibu selalu percaya pada akhirnya aku bisa dewasa, dan tidak menjadi bayi lagi kelak.
Ibu, aku nggak pernah bisa menunjukkan kalau aku cinta ibu. Walau Ibu bagiku adalah segalanya, tapi aku nggak pernah bisa mengungkapkannya. Maaf, ibu. Aku terlahir sebagai seorang anak yang malu-malu bahkan untuk mangungkapkan rasa cinta pada Ibu.
Ibu yang nggak akan tergantikan,
Disaat orang lain bilang itu nggak boleh untukku, ibu selalu bilang itu boleh untukku. Ibu yang mendukungku agar aku terus berusaha agar bisa sampai di Korea suatu saat nanti, ibu yang bilang aku boleh memilih universitas mana yang ingin aku masuki nanti, ibu yang selalu bilang aku pintar, walaupun aku sendiri nggak yakin dengan kemampuanku.
Ibu yang menge’pack’ pakaian-pakaian yang akan aku bawa waktu itu untuk study tour, yang mondar-mandir mengambilkan segala sesuatu yang aku perlukan. Ibu yang sibuk sendiri menyiapkan ini-itu untuk aku bawa, yang nganterin aku untuk kumpul di sekolah sebelum berangkat study tour waktu gerimis. Dan tahu nggak, Bu, selama aku study tour, satu-satunya orang yang selalu teringat olehku adalah ibu. Aku bisa melupakan sejenak seseorang yang membuatku kadang kangen, kadang greget, kadang kesel sampe pengen garuk mukanya *Cuma pengen, karena aku suka, tapi sialnya akupun nggak kenal orang itu. Aku bisa melupakan sejenak guru-guru killer bin nyebelin di sekolah, pelajaran-pelajaran yang bikin pusing, dll. Tapi aku nggak bisa melepaskan pikiran ini dari sosok ibu barang sejenak.
Aku bahkan nggak percaya aku bisa melakukan apa-apa sendiri selama study tour. Kehujanan, kedinginan, keberatan koper, mandi yang harus cepet dan memang dicepet-cepetin, banyak deh. Semuanya aku alamin tanpa ada ibu di dekatku. Ingin rasanya aku berteriak puas karena aku mungkin nggak nyusahin ibu selama seminggu, dan aku ingin berteriak, ‘lihat, Bu, aku bisa nyusun bajuku sendiri di koper, aku bisa makan apapun yang disediakan tanpa banyak omong, aku bisa menenteng koper tanpa rodaku sendiri dari hotel sampe dalem bus..’, dan lain sebagainya.
Ibu yang nggak pernah lelah,
Setiap aku membantu ibu, ibu selalu berkata: ‘udah sini, ibu aja yang ngerjain. Kasian, Lala udah cape.’ Atau ibu bertanya: ‘Lala memang nggak ada PR? Udah sana, kerjain PR atau belajar aja. Biar ibu yang nerusin.’ Padahal bu, aku nggak pernah kerja sampe secape Ibu.. 
Ibu yang nungguin aku setiap malam kalau aku banyak PR dan harus lembur, bahkan ibu yang rela tidur di kursi di ruang tengah, digigitin nyamuk dan kedinginan untuk nemenin mbak Lia yang waktu itu masih menggarap skripsi pake komputer yang juga ada di ruang tengah.
Ibu yang selalu curhat ke aku. Tentang orang-orang yang memandang ibu sebelah mata, tentang orang yang menyakiti hati Ibu. Ingin rasanya aku menangis, kenapa ibuku deperlakukan seperti itu? Ibuku hebat, ibuku baik, ibuku sayang.. biarlah aku yang nanti akan membuat Ibu nggak akan diremehkan lagi. Betapa aku masih mau belajar sampai saat ini karena aku ingin menjadi sesuatu yang bisa Ibu banggakan.
Ibu nggak boleh menangis lagi. Ibu, aku cinta ibu. Biarlah disini aja aku mengatakan bahwa aku cinta ibu. Mau menjadi orang sebesar apa diriku nanti –seperti doamu- aku nggak akan bisa membayar semua yang ibu berikan untukku. Terimakasih ibu, ibuku yang luar biasa. Harapanku kelak aku bisa mengucapkan 3 kata saja, ‘aku cinta Ibu’, di hadapanmu.

                                                                                                                                                Desember 2011


Tulisan ini sebenernya aku buat dalam rangka berpartisipasi dalam kompetisi menulis surat untuk mama yang diselenggarakan oleh salah satu fan page di facebook. Hadiahnya sih nggak terlalu gede sih, juara satunya Cuma akan mendapat Rp200.000,- kalo nggak salah. Tapi karena aku masih dalam keadaan Kanker “kantong Kering” *hehe, jadi ikut-ikut aja deh. Sebenernya nggak terlalu mengharap menang juga sih, yang penting aku ikut aja.

Di hari terakhir batas partisipasi, aku tulis dan langsung post deh di facebook. Tapi kok nggak bisa di share ulang dengan men-tag fan page itu. Mungkin karena aku belum berumur 17 tahun, jadi ya udah dari sononya facebook nggak ngizinin aku untuk share asal-asalan ke publik. Sialnya waktu mau ganti tahun lahir, harus konfirmasi lewat email. Nah, email yang aku gunakan untuk facebookan tuh email yang udah angus. Hm.. yesungdah *plak! Ya sudah.
Usahaku belum berhenti tuh *ambisius banget!  Aku hubungi admin fan page nya, terus aku disuruh ngirim lewat email. Aku kirimlah link catatan itu beserta filenya dalam bentuk word file lewat email baru yang waras. Tapi tulisanku yang berupa catatan di fb itu belum juga terdaftar di daftar peserta kompetisi. Eh, aku barusan dapet balesan pertanyaanku kemaren, (kebetulan deadline nya diundur sampe tanggal 7 Januari), kalo sampe deadline pun admin fan page nggak bisa baca catatanku. T-T
Ya sudahlah. Yang penting udah bisa nulis sebuah surat untuk ibuku. Kalo nggak ada kompetisi ginian, kayaknya mah nggak bakal deh nulis-nulis surat untuk ibu. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

>>Tinggalkan jejak.. :)