29 Mei 2012

Seonbae Kami (우리 선배들)*

pict from: whatscallieupto.blogspot.com
Banyak cerita tentang ‘rasa’ di SMA. Kami adalah sekumpulan sahabat yang masing-masing mempunyai seseorang yang diam-diam disukai. Orang-orang itu kami sebut ‘gaje-deul’ (para gaje). Gaje diambil dari istilah yang dipakai anak muda Indonesia ketika mendengar atau melihat sesuatu yang tidak jelas. Lebih tepatnya sih singkatan dari ‘Gak Jelas’.

Kami, para secret admirer seringkali mengatakan dan merasa bahwa Gaje-deul adalah orang yang jahat. 나쁜 사람(nappeun saram). bukan karena perlakuan mereka terhadap kami. 그런거 아니에요 (geureon-geo anieyo), bukan seperti itu. Tapi karena mereka tidak pernah tahu bahwa kami menyukai mereka. Bahkan mungkin, mereka tidak pernah tahu bahwa kami ada. Ya, kami ada dan bersekolah di SMA yang sama dengan mereka. Agaknya, itu tidak bisa disebut kejahatan. Yah, kami saja yang menyalahkan mereka. Padahal, apa salah seseorang yang tidak tahu apa-apa? Apa salah Gaje-deul yang tidak tahu perasaan kami yang jauh terpendam dan hampir tidak mungkin kami keluarkan untuk kami tunjukkan pada Gaje-deul? Sekali lagi, mereka sebenarnya tidak salah apa-apa.

Tapi coba tebak, apa itu berpengaruh pada perasaan kami? Hebatnya, tidak. Bagaimanapun kami menganggap mereka orang jahat, tapi perasaan gila itu tetap tumbuh, malah semakin subur saja dalam hati kami. Oh, SMA, betapa tempat ini adalah tempat dimana ruang-ruang dalam diri terisi dengan berbagai nuansa. Hari-hari SMA adalah hari yang selalu berubah-ubah, layaknya arakan awan yang terlihat saat kita mendongakkan kepala kita ke langit yang tidak ada batasnya. Kadang berarak ke kanan, kadang ke bawah, kadang menyebar. Mereka tidak bisa diam!
pict from: smashboards.com

Gaje-deul kami adalah juga senior kami (우리 선배들). Dan itulah yang membuat semua ini menjadi payah. Ketika untuk terakhir kalinya mereka berada di lingkungan SMA pun, tak ada yang bisa dilakukan oleh para Secret admirer ini. Ketika melihat mereka datang pada acara penglepasan siswa kelas XII, yang kami lakukan hanyalah menggenggam erat-erat apa-apa yang sedang kami pegang. Jadi, kalau yang kami pegang saat itu adalah buku, maka ketika mereka datang, buku itu akan rusak karena terlalu kuat digenggam. Gerakan tak sadar seperti itu, apakah juga merupakan sinyal bahwa terlalu ada ‘rasa’ dalam hati kami? Atau merupakan sinyal, terlalu banyak tekanan saat melihat mereka? Sepertinya dua-duanya tidak salah.

Tidak punya keberanian, bahkan hanya untuk menganggukkan kepala saat kebetulan bertemu dengannya, adalah salah satu dari banyak kekurangan kami. Tapi apa gunanya juga mengungkapkan perasaan pada Gaje? Jika mereka sudah tahu, selanjutnya bagaimana? Akhirnya kami rasa lebih asik seperti ini, mencintai dalam diam. Karena hakikat mencintai, bukankah selalu mendoakan yang dicintai? Mungkin Tuhan akan membalas doa-doa yang kami alirkan pada mereka. Jika tidak membalasnya dengan Gaje, mungkin Tuhan akan balas dengan cara yang jauh lebih baik. Rasa haru, bahagia, sedih, marah, kesal, dan berbagai rasa yang selalu berserakan selama ini, sudah cukup membuat kami bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih pada Gaje-deul. Merekalah yang membuat kami merasakan ‘inilah kehidupan SMA’. Dengan seragam putih abu-abunya, mereka sepertinya akan terus terbingkai rapi dalam suatu tempat yang hanya kami yang tahu. Bahkan walau mungkin tak akan pernah melihat mereka lagi untuk waktu yang entah sampai kapan, kami masih bisa tersenyum saat kami melihat ke dalam ruang, yang disana terdapat mereka, dengan setumpuk kenangan putih abu-abunya.

Untuk U, BB, dan L: jangan nakal! Ingat, kalian kini mahasiswa...

*선배 (seonbae): senior

4 komentar:

>>Tinggalkan jejak.. :)