26 Agustus 2012

From Friend Till Friend

:dedicate to everyone around us. Please stop judging us arbitrarily..

Tadi siang gue dan temen-temen akrab gue ngabisin week end moment dengan berjalan-jalan menyusuri kota Bandar Lampung. Nggak bener-bener menyusuri seluruh sisinya sih, Cuma ke tempat-tempat nongkrong aja. Tapi kali ini gue bukan mau nulis bagaimana perjalanan week end kami, tapi tentang suatu hal yang kebayang di pikiran hari ini.

Tempat nongkrong yang pertama kami datengin adalah toko buku terbesar di Lampung. Di tempat ini nggak sengaja gue nemuin sebuah buku bergenre non fiksi gitu deh. Tentang pengalaman-pengalaman anak sekolahan. Tapi gue lupa apa judulnya. Yang gue inget hanyalah gambar bukunya. Tokoh PUCCA dipakai sebagai cover model, dan warna covernya merah.

Nggak sengaja juga gue buka salah satu halaman yang nyeritain pengalaman persahabatan penulis waktu sekolah dulu. Kalo nggak salah sih waktu SMA. Jadi gini ceritanya. Penulis perempuan itu waktu di SMA dulu, punya seorang temen laki-laki yang deket banget. Saking deketnya, mereka jojong aja kemana-mana berdua, kadang pegangan tangan, dll. Tapi masalahnya adalah, lingkungan mereka nggak bisa melihat mereka sebagai sepasang sahabat, tapi sebagai sepasang kekasih. Sana-sini gosipin mereka berdua. Karena merasa nggak nyaman, si temen laki-laki itu akhirnya menjauh. Ya, hanya karena perkataan ngasal orang-orang, persahabatan mereka pun berantakan. Sampe si laki-laki menikah, penulis itu masih aja merindukan hangatnya persahabatan mereka dulu. bukan karena penulis itu naksir sahabatnya sendiri, tapi karena menyesali bahwa persahabatan mereka putus hanya gara-gara hal sepele yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Jadi apa yang membuat gue sampe menulis kutipan cerita itu? Hm, karena gue juga punya jalan hidup(?) yang agak mirip dengan cerita di buku itu. Gue punya temen laki-laki yang lumayan deket sama gue. Kami enjoy ngobrol, beraktivitas di sekolah, dan lain lain deh. Tapi ya itu. Orang-orang di sekeliling kami, kenapa sih, nggak bisa menerima bahwa kami adalah sepasang teman? Mereka selalu memvonis, kami tuh punya hubungan lebih dari teman.  Mungkin bagi mereka, mustahil ada persahabatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Hey, lihatlah! Kami punya orang yang kami taksir masing-masing. Kami hanya teman. Sadarlah.. -_-
Gue yang mulai risih dengan gosip-gosip yang terus menyebar itu mulai ingin menjauh. Sebenernya nggak ada rencana untuk memutuskan tali pertemanan, tapi kok hasrat untuk bebas dari gosip semakin kuat ya...

Sialnya, hampir susah banget untuk menjadi yang berjauhan dengan dia. Duduk di kelas yang sama, organisasi dan ekstra kulikuler yang juga sama, membuat kami terpaksa selalu berhubungan. Akhirnya, just take it easy adalah langkah yang bisa gue ambil. Jalani aja. Lama kelamaan juga mereka akan tahu apa yang sebenernya. ‘cos friend will always be friend. Nggak ada ceritanya tuh, sepasang teman kok jadian :)

4 komentar:

  1. semakin tinggi pohon,semakin kuat angin berhembus.
    -_-
    #maap kalo gak nyambung lagi.

    BalasHapus
  2. oh, oke saya maklum. saya memang famous #plak! huahaha

    BalasHapus
  3. ohohoho... i know who he is :D

    BalasHapus

>>Tinggalkan jejak.. :)