16 September 2012

Kami Anak ROHIS, Kami Bukan Teroris

Kiamat sudah semakin dekat saja. Buktinya, banyak fitnah beredar begitu cepat. Tapi fitnah yang beredar hari ini sangat menyakiti aku dan juga banyak anggota Rohis lain. Metro TV sebagai stasiun televisi kebanggaanku, yang aku sebut-sebut di depan teman-temanku sebagai stasiun televisi pendidikan terbagus, teryata bisa juga ya, membuat fans-nya kecewa.

Baiklah, metro TV tadi telah menyatakan bahwa data ‘Pola Perekrutan Teroris’ tersebut bukan berasal dari Metro TV, tapi dibawa oleh narasumber yang Metro TV pun tidak tahu dari mana data tsb. Tapi jelas-jelas Metro TV-lah yang menayangkan program dialog itu, yang bisa dikatakan kotra dan sarat dengan SARA tsb.  Apalagi organisasi yang melangsungkan aktivitasnya di masjid atau mushola, kalau bukan Rohis? Meski tidak disebut secara langsung, Metro TV pikir kami ini –anak-anak Rohis- tidak bisa melihat itu sebagai hal yang menyudutkan kami dan juga agama kami? Apakah kalian berpikir kami terlalu sibuk dengan yang namanya Al-Quran, sholat, dakwah, BBQ, dan sebagainya sampai terlalu bodoh untuk diperlakukan seperti itu? Sekali lagi, aku dan juga teman-teman yang lain sangat kecewa dengan Metro TV yang katanya berperan dalam pencerdasan bangsa.

Tunggu dulu. Kini ungkapan ‘pencerdasan bangsa’ sepertinya agak rancu di pikiranku. Yang dimaksud Metro TV dalam pencerdasan bangsa itu yang bagaimana? Ada dua pilihan yang bisa kita lihat. Pertama, kita dididik untuk berpikir cerdas a la instant saat ini. Maksudnya, masyarakat maju itu harus mandiri, mungkin masyarakat yang maju tidak butuh lagi campur tangan pemilik alam semsta ini dalam melangsungkan hidupnya. Karena saat ini yang kita butuhkan adalah kebebasan. Kebebasan dalam memilih jalan hidup, tanpa paksaan, tanpa aturan. Hm? Tanpa aturan? Ya, karena segala yang dirasa terlalu mengatur sepertinya sangat mengganggu keberlangsungan hidup ini. seperti aturan yang tadinya diterapkan terhadap perempuan. Tapi karena kita sudah menjadi masyarakat maju, semua-semua maunya digeneralisasikan. Maka timbul gerakan bernama Emansipasi Wanita. Tapi aku masih berpikir, kenapa perempuan-perempuan senang sekali menggemborkan isu emansipasi wanita, tapi kalau dihadapkan pada pekerjaan bersifat Laki sedikit, apa jawabnya? Seperti kalau disuruh memasang boklam lampu, “Masak kami yang harus melakukannya? Kan ada laki-laki,” Ck ck, ternyata emansipasi wanita tak lebih dari pernyataan tidak bertanggung jawab dari perempuan-perempuan cerdas dewasa ini. Oke, jangan terlalu melebar, ini baru pilihan pertama.
Apa kami terlihat seperti teroris?

Selanjutnya, pilihan kedua dalam upaya pencerdasan bangsa. Bagaimana bisa sebuah bangsa memiliki tunas-tunas yang cerdas, jika yang dijejalkan hanyalah kebebasan, kebebasan, dan kebebasan pada generasi mudanya? hm, langsung saja. Bagaimana bisa cerdas, kalau tidak punya landasan? Bagaimana bisa cerdas kalau tidak beragama. Tentu saja beragama di sini bukan sebatas mempunyai agama, tapi beragama adalah melakukan apa yang ditetapkan oleh agamanya. Jika pada pilihan pertama tadi muncul salah satu gerakan bernama Emansipasi wanita, maka pada pilihan kedua ini muncul juga salah satu gerakan yang tujuannya juga mencerdaskan bangsa. Rohani Islam, atau yang populernya disebut Rohis.

Kenapa harus Rohis? Coba tanyakan kepada setiap organisasi selain Rohis, apakah ada yang menerapkan sistem target dalam aktivitas rutinnya? Di Rohis, kami diajarkan untuk mentargetkan hafalan, bacaan Al-Quran, sholat, puasa, dzikir, dan sebagainya. Bukan karena kami ingin terlihat sok alim, tapi upaya awal untuk bisa cerdas dimulai dari pemikiran dan hati yang bersih. Keduanya bisa kita dapatkan jika kita beragama. Bahkan ketika kami ingin melangsungkan sebuah event atau kegiatan, bukan hanya gladi bersih yang kami lakukan, tapi kami juga melakukan pendekatan lebih, kepada Yang Maha Mengatur. Misal, yang biasanya membaca Alquran satu juz seminggu, maka mendekati kegiatan akan menambah target bacaan Alquran, begitupun dengan amalan lainnya. Amalan-amalan itu disebut muttaba’ah.
-Lomba Hafalan-
Apa ada yang terlihat mencurigakan pada kami?

Mungkin ada yang berpikir, ‘ah, terlalu lelah untuk mengikuti jalan hidup Rohis,’ Tapi jangan salah dulu. Muttaba’ah itu sama sekali tidak membuat otak kami jenuh,justru itulah jalan pendekatan kami kepada Tuhan kami. Banyak efek positif yang kami rasakan, seperti ketenangan alami dan kedekatan kami kepada Allah. Secara logika, jika orang lain sudah mengenal dekat kita, apa sih yang tidak dikabulkan? Apa sih yang tidak dipenuhkan? Apa sih yang tidak diberikan? Apalagi misalnya dalam hubungan pacaran. Kalau sudah menyayangi, apa sih yang tidak untuk terkasih? Begitupun dengan Allah. Apa sih yang tidak dibagi kepada kita kalau kita sudah membagi waktu kita untukNya? Kembali ke akar masalah, maka pilihan kedua adalah cara tepat dalam upaya mencerdaskan bangsa ini. Sudah bukan hal baru lagi, kalau anak-anak Rohis, baik di sekolah maupun di kampusnya adalah anak-anak yang punya prestasi. Bukan sekadar menumpang nama pada label sekolah atau universitas yang bagus, tapi kami cukup bisa membuktikan bahwa Rohis layak untuk terus dijaga ke-eksis-annya, karena kami pun selalu menjaga nama baik almamater sekolah maupun universitas kami.
Tapi ada muttaba’ah yang tidak pernah mengajarkan satu hal kepada anak-anak Rohis. Apa itu? Ya, menjadi teroris. Kami dididik cerdas di Rohis bukan untuk dijadikan biang rusuh di negeri ini. Kami dibentuk bukan untuk menjadi teroris. Kami di suruh melakukan muttaba’ah bukan untuk melancarkan agenda teror untuk saudara kami sendiri. Sekali-kali kami tidak pernah diajarkan untuk menjadi teroris.

Apa untungnya menjadi orang yang dibenci Tuhan kami karena menyakiti saudara sendiri? Apa untungnya menzholimi diri sendiri dan orang lain? Jadi, kepada Metro TV, kami menegaskan bahwa kami anggota Rohis, kami bukan teroris.

Satu hal lucu tentang Metro TV yang dilakukan hari ini:
Data antah berantah kok berani-beraninya di publikasikan! Ckckck...

4 komentar:

  1. thumbs up.
    anak bangsa harus punya idealisasi dan pemikiran yang kritis seperti ini. bukan langsung menerima semua yang diberikan. =] keep on writing... =]

    BalasHapus
  2. Hati-hati Metro TV memang anti ISlam.. silakan baca pengakuan mantan pekerja metro tv
    https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=152843381522758&id=168259633193605

    BalasHapus
  3. ckckck.. adeku ini memang mantab! :D

    BalasHapus

>>Tinggalkan jejak.. :)