15 Februari 2013

No More, More Than Friend


Hai... Lama ya, nggak nyampah di blog ini.. (:
Cuma pingin sedikit berbagi. Ehm, sebenernya kalau dibilang berbagi sih nggak juga. Intinya Cuma pingin nulis aja.

Waktu merangkak begitu cepat. padahal waktu nggak berjalan. Yah, itulah hidup (:
Aku Cuma mau menuangkan rasa syukurku pada yang Maha Pemberi rasa pada hidup ini, sampe kayak iklan kopi: karena hidup banyak rasa. Bersyukur pada Allah, Tuhan satu-satunya, yang sudah membantuku mengubah pikiran dan tingkah ini. Aku inget waktu itu. Waktu jamannya –kalau boleh dibilang- jahiliyyah. Ya, aku sadar sekarang pun masih dalam tahap berusaha keluar dari masa jahiliyyah itu, tapi waktu itu kok rasanya..parah amat ya..

Aku juga inget. Bahwa hanya karena beberapa momen di masa itu, sampe sekarang pun apa yang orang-orang di sekitarku pikirkan masih sama: bahwa I’m in relationship. Memang, waktu itu (waktu itu ya. Baca baik-baik: waktu itu!) –sekali lagi kalau boleh dibilang- aku belum berprinsip seperti saat ini. Aku pikir bersahabat dengan lawan jenis itu akan baik-baik saja, tapi nyatanya aku ini orang islam. Bagaimana mungkin sebuah hubungan persahabatan dengan lawan jenis akan selalu baik-baik saja, berjalan mulus tanpa hambatan, dengan kecepatan tetap dan tanpa ada percepatan (latah fisika.. -_-)

My more than friend, orang yang dulu pernah aku bicarakan satu kali di blog ini, ah..seharusnya sudah sejak dulu aku putuskan bahwa tidak mungkin ada persahabatan sejati antara seorang perempuan dengan laki-laki. Aku nggak berbicara masalah apakah aku waktu itu akhirnya jatuh cinta pada orang itu. Tapi tentang sebuah kenyataan bahwa memang benar, semua itu Cuma menyisakan fitnah. Meskipun sampai hari ini nggak pernah ada sepatah pun kata terucap, bahwa kami punya hubungan istimewa, semuanya terlanjur menyebar. Belum lagi satu kesalahan paling fatal dari itu semua, ya, bahwa aku seorang sekbid damba. Sekretaris bidang Dakwah dan Minat Bakat rohis di sekolahku. Judulnya aja udah dakwah, nggak habis pikir deh kenapa bisa setega itu mengotori nama organisasi yang bener-bener membuatku merasa hidup di sekolah ini. Maaf ya, Rosstar..

Jujur, aku pingin berubah. Aku punya prinsip sekarang, bahwa aku nggak akan pacaran sebelum menikah. Apakah terlalu muluk? Ya, jelas. Tapi itu cita-cita sekaligus niat. Apakah terlalu sok suci? Ya, pasti. Tapi itulah hasil musyawarah antara aku dan nuraniku. Apakah terlalu kekanak-kanakan? Ya, mungkin saat ini siapapun yang membaca tulisan ini akan melihat bahwa aku adalah anak ingusan yang belum mengerti apa-apa tentang hidup. Yang sok alim, yang pingin pamer. Tapi mudah-mudahan, ketika kubaca kembali tulisan ini lima, tujuh, sepuluh, bahkan dua puluh tahun kemudian, aku akan melihat betapa proses pendewasaan itu bertahap dan sudah ada sejak hari ini (semoga..)

Singkat cerita (aduh, curcol nih jadinya J._.J) karena beberapa hal dan sebab, aku bersyukur Allah menjauhkan aku dari seseorang yang pernah kusebut My more than friend. Dan semoga ini berlanjut sampai aku benar-benar memahami apa arti sebuah persahabatan dan cinta suatu saat nanti.
Catatan:

Untuk semuanya, khusunya untuk dirimu I, dirimu II, dan dirimu-dirimu lainnya,  tolong hargai perasaanku. Apa rasanya seseorang yang selalu divonis sesuatu padahal ia telah berubah? Pikirkan itu baik-baik. Jangan lagi memadankan dia dengan sebutan-sebutan yang seharusnya tidak pantas disebutkan. Terimakasih semuanya.. (:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

>>Tinggalkan jejak.. :)